Minggu, 20 Januari 2013

Wanita Dalam Foto

,
Foto itu kugenggam erat ditanganku. Masih seperti dulu, licin dan tanpa lipatan. Aku sengaja menaruhnya diantara tumpukan lipatan baju di baris nomor tiga dalam almari. Kembali kutatap wajah wanita dalam foto itu. Tersenyum manis sambil memegang sebuah tas kecil warna ungu tua, pemberianku dulu waktu dia ulang tahun ke 19. "ah, cantik sekali kau rupanya". Gumamku dalam hati.

Kembali kuusap wajah wanita dalam foto itu. Sebuah tahi lalat kecil menghiasi wajah ayu yang dulu pernah membuatku tergila gila padanya. "ah, seandainya dulu aq lebih punya nyali untuk menemui orang tuamu, pasti tidak hanya fotomu yang berada disini" desahku. Sebuah rasa sesak tiba tiba menyeruak masuk memenuhi rongga dada. Sulit rasanya membayangkan dirimu sekarang sedang bermesraan dengan laki-laki lain, bercanda dan tertawa bersamanya. Pedih. Namun segera kualihkan lamunanku agar air mata ini tak sempat meleleh.

Kubalik dan kuperhatikan lagi foto itu. Ada sebaris tulisan disana. Kubaca lagi walau sebenarnya aq sudah hafal betul di luar kepala. "16 Januari 2009, happy birth day my lovely angel". Ya, itulah hari ulang tahunmu, sengaja aq cetak foto itu, sebagai salah satu kejutan dan permintaan maafku di hari spesialmu nanti.

Iya, aq benar benar ingin minta maaf padamu. Bukan karena sengaja aq tidak pernah menghubungimu satu minggu terakhir waktu itu. Di perusahaan tempatku bekerja sungguh sedang dalam masa sulit. Beberapa karyawan kantor terpaksa di PHK untuk mempertahankan kondisi keuangan dan management yang kolaps. Apalagi beberapa sahabatku di kantor menyatakan untuk mengundurkan diri karena tak berani menanggung akibat yang akan terjadi bila benar2 perusahaan kami ditutup.

Sore itu, aq mencarimu di kos. Kamu tidak di sana. Beberapa kali aq coba hubungi lewat SMS tidak ada tanggapan. Teleponpun tidak juga kau hiraukan. Mungkin kau sedang merayakan ulang tahunmu bersama teman teman satu gank mu yang selalu menemani dimanapun kamu berada. Tapi si Anis, teman satu kosmu bilang kalau kamu pulang pagi harinya. Aq cukup terkejut, tidak biasanya kamu pulang tanpa memberitahuku terlebih dahulu.

Kupacu sepeda motorku sore itu juga. Perjalanan Jogja-Klaten bisa kutempuh dalam waktu satu jam. kalo jalan sedang macet, biasanya akan molor sekitar 30 menit untuk sampai di rumahmu. Aku harus menemuimu hari itu juga, kalau tidak, mungkin aq akan terus merasa bersalah padamu. Beberapa hari yang lalu kau terus menelponku, mungkin untuk memberi tahu hari ulang tahunmu akan segera tiba. Sengaja tak ku angkat agar kau merasa sebel denganku, lalu kamu merasa kaget dan gembira saat aq menemuimu untuk minta maaf sambil memberikan hadiah boneka beruang yang sudah lama kamu inginkan. "benar benar rencana yang sempurna" batinku dalam hati. Tapi karena kau malah pulang waktu itu, tak apalah.. Sekalian aq ingin berkenalan dengan orang tuamu secara langsung, karena mungkin ini sudah saatnya. Beberapa kali kau minta aq untuk melamarmu, tapi aq masih merasa belum siap.

Aku tiba di depan halaman rumahmu. Beberapakali aq mengantarmu pulang, tapi tak juga berani untuk masuk. Bagaimanapun juga saat itu aq hanyalah seorang karyawan biasa di sebuah kantor kecil yang sedang berkembang. Aku berjalan menuju pintu rumahmu. ku ketok perlahan beberapa kali sambil mengucapkan salam.

Pintu rumah terbuka. Kamu berdiri di sana sambil melongo. Mungkin kamu sangat terkejut waktu itu. Kulemparkan sebuah senyuman lebar "Surprize.." kataku memberi kejutan. Kamu tetap melongo. Aq masih berdiri di teras rumah tanpa kau persilahkan masuk. Seorang lelaki paruh baya yang dari tadi duduk di kursi tamu menanyakan siapa aku dan menyuruhmu untuk mempersilahkan aq masuk. Kamu malah mendorongku dan memaksaku keluar. Singkatnya, kamu mengusirku dari rumah.

Belakangan, baru aq tau kalau lelaki paruh baya di ruang tamu itu adalah calon suamimu. Itu terbukti setelah dua minggu berikutnya kamu menikah. Rasa marah dan sesal menjadi satu. Apalagi saat teman2mu bercerita bahwa sudah tiga bulan kamu berpacaran dengannya. Tiga bulan? Bukannya waktu itu kita masih sering jalan2 berdua? Bukannya waktu itu kita masih sempat menghabiskan malam2 dengan menikmati pemandangan di bukit bintang dan berlomba untuk menghabiskan mie ayam pak marto di seberang jalan kampusmu? Mengapa kamu tidak pernah bercerita? Atau sekedar memberitahu kalau kau tidak pernah bahagia denganku? Dan mengapa diam diam kau....

Foto yang masih kugenggam erat itu kurobek jadi dua. Ku koyak koyak kemudian kujadikan sebuah bola kecil yang bentuknya tampak tak rapi. Kulempar ringan ke dalam tong sampah, kemudian kembali kutata tumpukan baju yang daritadi belum selesai aq rapikan. Dari ruang tengah terdengar suara istriku memanggil, menyuruhku untuk segera makan malam.

NiCko Rh, 16 januari 2013.
Ditulis oleh: Nicko Rh

6 komentar:

  1. it's a nice cerpen. Menyentuh & terasa nyata...Sy jg suka menulis tp tdk sebagus & serapi ini dalam bertutur serta penulisannya. Keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih.. saya baru tahap belajar. jadi semangat kalo dapat pujian begini, terimakasih :)

      Hapus
  2. seneng dengar ceritanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. lain kali pengen nulis yang gak sedih. Walaupun sebenarnya yg ini bukan pengalaman pribadi saya :)

      Hapus
  3. Ini cerita nyata atau fiksi mas?
    hehehe..


    (,")

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... cerita fiksi tapi gak seluruhnya fiksi juga mas.. :))

      Hapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejak :)