Selasa, 02 Juli 2013

Jogja, Masihkah Sebagai Kota Pelajar?

,
Jogja, masihkan engkau disebut kota pelajar? Itulah yang sering terngiang dalam pikiran saya beberapa minggu terakhir. Memang, kalau kita lihat.. Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak sekali sekolahan, bimbel, kursus, atau lembaga pendidikan lainnya. Disana juga terdapat beberapa perguruan tinggi yang terkemuka di Indonesia. Lantas karena itukah Jogja disebut kota pelajar?

Dalam beberapa dekade belakangan, kemajuan teknologi serta informasi berkembang pesat dalam dunia pendidikan, sehingga tak dapat disangkal lagi bahwa para pelajar dan mahasiswapun akan menjadi user utama media canggih tersebut. Kita pasti tau, peranan teknologi memberikan berbagai kemudahan dan kemajuan dalam dunia pendidikan, akan tetapi disamping itu budaya luar yang bersifat negatifpun tak dapat kita hindari. Akan menjadi petaka besar bagi perkembangan anak dan remaja jika tidak dapat menyaring dampat negatif tersebut.

Yang menjadi racun utama generasi muda saat ini adalah 3F: Food, Fashion, dan Fun. Model gaya hidup yang digandrungi anak muda jaman sekarang juga banyak kita temui di kota Yogyakarta tercinta ini. Disini saya tidak mengatakan bahwa makan di restoran mewah itu salah, bergaya modern atau mengikuti mode itu dosa, tapi alahkan baiknya jika kita bisa memilah mana yang baik dan yang tidak. Nah, sekarang inilah yang menjadi permasalahan kita saat ini.. Mari kita bahas bersama..


Mungkin diantara teman2 yang berada di Jogja pernah melihat atau mengalaminya. Pergaulan remaja saat ini sungguh sangat meresahkan. Pemuda dan pemudi menganggap bahwa gaya pacaran adalah hal yang lazim dilakukan oleh manusia susia mereka.. Memang, tidak ada salahnya pada masa2 pubertas mereka memiliki rasa ingin tau yang lebih dan munculnya rasa suka dengan lawan jenis. Yang saya anggap meresahkan disini adalah pergaulan yang kebablasan. Budaya barat yang menganggap bahwa virginitas merupakan hal yang tidaklah terlalu penting mulai membudaya di kalangan mahasiswi Yogyakarta, kaum terpelajar. Bahkan anak2 seusia SD dan SMP jaman sekarang mulai ikut2an yang namanya pacaran..

Memang dalam hal ini tidak semua kalangan pelajar Jogja seperti itu, banyak juga yang bisa menjaga diri dalam bersosialisasi. Tapi berdasarkan survey yang selama ini saya lihat bahwa hampir atau bahkan sebagian besar kaum pelajar telah terjangkit budaya negatif kaum barat. Pernah suatu ketika saya berkunjung ke salah satu kos teman kuliah, disana nampak seorang perempuan yang sedang singgah dalam kamarnya, hal tersebut terjadi bahkan sampai berulang kali.. Tak hanya itu, terkadang saya menjumpai teman2 perempuan sedang jalan2 di mall2 dengan mengenakan baju ala rihanna sambil bergandengan tangan dengan lawan jenisnya. Na'uzubillah.. Apa jadinya orang tua mereka kalau tahu anaknya yang dibiayai dengan bercucuran keringat dan air mata, di Jogja malah berkelakuan hal seperti itu.

Gaya hidup yang lain seperti mengunjungi berbagai tempat hiburan, seperti karaoke, nonton, jalan - jalan di mall atau tempat2 hiburan yang lain sudah mulai mendarah daging. Apakah itu semua salah? Jelas tidak. Yang menyebab terjadinya kesalahan adalah hal tersebut menjadi kebutuhan dan rutinitas.. Bukankan masih banyak kebudayan daerah kita yang perlu dilestarikan? Masih banyak hal positif yang dapat dilakukan sebagai penerus bangsa untuk memperbaiki negeri kita tercinta ini. Sehingga tak tak ayal lagi Jogja hanya menghasilkan jebolan anak sekolah yang fasih dengan kebudayaan barat, tetapi nol soal pengetahuan dan teknologi. Sampai disini, apakah jogja masih pantas disebut kota pelajar?

Demikian sedikit tulisan saya semoga menjadi renungan kita bersama.. Saya sama sekali tidak bermaksut untuk menjelek- jelekkan kota tercinta yang telah membesarkan saya ini. Hanya sekedar peringatan untuk para orang tua agar lebih tanggap terhadap anaknya, atau para remaja agar lebih berhati - hati dalam bergaul di kota pendidikan ini. Bagaimanapun bagi saya, Jogja adalah surga.. terutama bagi mahasiswa. :)
Ditulis oleh: Nicko Rh

3 komentar:

  1. Bukan cuma di jogja mas, saya rasa semua kota-kota besar sudah mulai kerasukan budaya yang tidak baik. Tulisannya sangat bagus, dan memperlihatkan bahwa mas memang orang berpendidikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang jadi permasalahan adalah predikat "kota pelajar" itu...

      Dengan predikat seperti itu, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam memperbaiki generasi penerus bangsa.

      Hapus

  2. Predikat " KOTA PELAJAR " harusnya predikat " PERNAH DI - AJAR "
    ayolah sama2 ngebangun Yogyakita...
    Thank Mas ...Nic

    BalasHapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan jejak :)